Home > KEPERAWATAN > PEMENUHAN KEBUTUHAN KEAMANAN PADA LANSIA

PEMENUHAN KEBUTUHAN KEAMANAN PADA LANSIA

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan didalamnya, baik faktor intrinsik dalam diri lansia tersebut seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkoppe dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai yang licin dan tidak rata, tersandung benda-benda, penglihatan kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.

Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.

Berdasarkan survei di masyarakat AS, Tinetti (1992) mendapatkan seitar 30% lansia lebih dari umur 65 tahun jatuh setipa tahunnya, separuh dari angka tersebut mengalami jatuh berulang.

Reuben dkk (1996) mendapatkan insiden jatuh di masyarakat AS pada umum lebih dari 65 tahun berkisar 1/3 populasi lansia setiap tahun, dengan rata-rata jatuh 0.6/orang. Insiden di rumah-rumah perawatan 3 kali lebih banyak. Lima persen dari penderita jatuh ini mengalami patah tulang atau memerlukan perawatan di rumah sakit

Kecelakaan merupakan penyebab kematian no.6 di Amerika Serikat tahun 1992. kematian akibat jatuh sangat sulit didefinisikan karena sering tidak disadari oleh keluarga atau dokter pemeriksanya, sebaliknya jatuh juga merpakan akibat penyakit lain misalnya serangan jantung mendadak.

Fraktur kolum femoris merupakan komplikasi utama akibat jatuh pada lansia. Fraktur kolum femoris merupakan fraktur yang berhubungan dengan proses menua dan osteoporosis. Wanita mempunyai resiko tinggi dibanding laki-laki untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh. Lansia yang sehat juga mempunyai resiko lebih tinggi dibanding lansia yang lemah atau cacat untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh.resiko untuk terjadinya perlikaan akibat jatuh merupakan efek gabungan dari penurunan respon perlindungan diri ketika jatuh dan besar kekuatan terbantingnya.

  1. B. Tujuan
    1. Tujuan umum :

Dapat memberikan pemenuhan kebutuhan keamanan pada lansia

  1. Tujuan khusus :
    1. Dapat menjelaskan definisi dari jatuh
    2. Dapat menjelaskan penyebab jatuh pada lansia
    3. Dapat menjelaskan factor resiko jatuh
    4. Dapat memberikan pemenuhan kebutuhan keamanan pada lansia

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Definisi

Jatuh adalah suatu kejadian mengakibatkan seseorag mendadak terbaring /terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka. (Reuben, 1996).

Jatuh merupakan suatu masalah yang sering terjadi pada lansia. Biasanya, mereka terjerembap (tergeletak di tanah atau tingkat yang lebih rendah) secara tidak disengaja. (www.indopos.co.id)

  1. B. Penyebab jatuh pada lansia

Penyebab jatuh pada lansia biasanya merpakan gabungan beberapa faktor, antara lain :

  1. Kecelakaan

Merupakan penyabab jatuh yang utama (30 – 50% kasus jatuh lansia)

  • Murni kecelakaan misalnya terpelesat, tersandung
  • Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelaianan-kelainan akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda-benda yang ada di rumah tertabrak, lalu jatuh.
  1. Nyeri kepala atau vertigo
  2. Hipotensi orthostatik
  • Hipovolemia / curah jantung rendah
  • Disfungsi otonompenurunan kembalinya darah vena ke jantung
  • Terlalu lama berbaring
  • Pengaruh obat-obatan hipotensi
  • Hipotensi sesudah makan
  1. Obat-obatan
  • Diuretik / antihipertensi
  • Antidepresan trisiklik
  • Sedativa
  • Antipsikotik
  • Obat-obat hipoglikemik
  • Alkohol
  1. Proses penyakit yang spesifik

Penyakit-penyakit akut seperti :

  • Kardiovaskuler      :  –  aritmia

-    stenosis aorta

-    sinkope sinus carotis

  • Neurulogi              :  – TIA

-    Stroke

-    Serangan kejang

-    parkinson

-    kompresi saraf spinal karena spondilosis

-    penyakit serebelum

  1. Idiopatik (tidak jelas sebabnya)
  2. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
  • Drop attack (serangan roboh)
  • Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba
  • Terbakar matahari
  1. C. Faktor Resiko Jatuh

Untuk dapat mengetahui faktor resiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh :

  1. Sistem sensorik

Yang berperan di dalamnya adalah : visus (penglihatan), pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibulerakibat proses menua. Neuropati perifer dan penyakit degenaratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif (Tinetti, 1992). Gangguan sensorik tersebut mebnyebabkan hampir sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

  1. Sistem saraf pusat (SSP)

SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, parkinson, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik (Tinetti, 1992).

  1. Kognitif

Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya resiko jatuh. Dengan adanya penurunan kemampuan kognitif,maka kewaspadaan, status mental, dan emosional akan menurun, sehingga akan mempengaruhi kesadaran, penilaian, gaya berjalan, keseimbangan, dan proses informasi yang diperlukan untuk berpindah atau mobilisasi secara aman.

  1. Muskuloskeletal

Faktor ini merupakan faktor yang benar-benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan muskuloskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh :

Kekakuan jaringan penghubung

Berkurangnya massa otot

Perlambatan konduksi saraf

Penurunan visus/lapang pandang

Kerusakan proprioseptif

Yang semuanya tersebut diatas dapat menyebabkan :

Penurunan range of motin (ROM) sendi

Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah

Perpanjangan waktu reaksi

Kerusakan persepsi dalam

Peningkatan postural sway (goyangan badan)

Secara singkat faktor resiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar, yaitu :

  1. Faktor-faktor intrinsik

-          kondisi fisik dan neuropsikiatrik

-          penurunan visus dan pendengaran

-          perubahan neuromuskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua

  1. Faktor-faktor ekstrinsik

-          Obat-obat yang diminum

-          Alat-alat bantu berjalan

-          Lingkungan yang tidak mendukung

(Kane, 1994)

Berbagai faktor resiko jatuh pada lansia

  1. Faktor host (diri lansia).
    Faktor-faktor yang menyebabkan roboh sangat komplek dan tergantung kondisi penderita/lansia. Di antaranya adanya disability, penyakit yang sedang diderita; perubahan-perubahan akibat proses penuaan (penurunan pendengaran, penurunan visus, penurunan mental, penurunan fungsi indra yang lain, lambatnya pergerakan, hidup sendiri) dan neuropati perifer. Neuropati perifer dapat dinilai dengan tes berdiri satu kaki selama 10 detik, bila gagal dalam tiga kali tes, sangat mungkin terdapat neuropati. Kondisi sakit, panas badan atau meningkatnya angka lekosit dan limfosit serta hemoglobin yang rendah juga meningkatkan risiko terjadinya roboh.
    Menurut Probo, beberapa disability di antaranya, kelemahan paha, artritis, penyakit parkinson, kelemahan badan secara umum, gangguan keseimbangan dan gangguan berjalan, gangguan neuromuskular atau muskuloskeletal. Bila terdapat tiga disability, maka risiko roboh 100 persen, sedangkan tanpa disability mempunyai risiko roboh sekitar 12 persen per tahun.
  2. Faktor aktifitas

Laki-laki dengan mobilitas tinggi, postur yang tidak stabil, mempunyai risiko roboh sebesar 4,5 kali dibandingkan dengan yang tidak aktif atau aktif, tetapi dengan postur yang stabil. Penelitian selama setahun terhadap 4.862 penderita yang dirawat di rumah sakit atau panti jompo, didapatkan penderita dengan risiko roboh paling tinggi adalah penderita aktif, dengan sedikit gangguan keseimbangan.

  1. Faktor Lingkungan
    Faktor lingkungan, terutama yang belum dikenal mempunyai risiko terhadap roboh 22 persen. Roboh pada lingkungan yang sudah dikenal, (misalnya di rumah), lebih banyak disebabkan oleh faktor host (dirinya). Faktor lingkungan terdiri dari penerangan yang kurang, benda-benda di lantai (seperti tersandung karpet), peralatan rumah yang tidak stabil, tangga tanpa pagar, tempat tidur atau toilet yang terlalu rendah.
  2. Faktor obat-obatan
    Jumlah obat yang diminum merupakan faktor yang bermakna terhadap penderita. Empat obat atau lebih meningkatkan risiko jatuh. Roboh akibat terapi obat dinamakan roboh iatrogenik. Obat-obatan yang meningkatkan risiko jatuh, di antaranya obat golongan sedatif dan hip notik yang dapat mengganggu stabilitas postur tubuh, yang mengakibatkan efek samping menyerupai sindroma parkinson.
    Obat-obatan lain yang menyebabkan hipotensi, hipoglikemi, mengganggu vestibular, menyebabkan neuropati hipotermi dan menyebabkan kebingungan. Transquilizer mayor (misalnya phenothiazine), antidepresan trisiklik, barbiturat, dan benzodiazepin kerja panjang juga meningkatkan risiko roboh.

(www.republika.co.id)

  1. D. Manifestasi klinis
  1. Cedera dan kerusakan fisik
  2. Fraktur
  3. Ansietas
  4. Hilangnya rasa percaya diri
  5. Depresi
  6. Hilangnya kemandirian
  1. E. Komplikasi

Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti :

  1. Perlukaan (injury)

-          Rusaknya jaringan lunak yang terasa sngat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri atau vena

-          Patah tulang (fraktur)

-          pelvis

-          femur

-          humerus

-          lengan bawah

-          tungkai bawah

-          kista

-          Hematom subdural

  1. Rawatan rumah sakit
  2. Disabilitas
  3. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan
  4. Mati

  1. A. Pencegahan

Ada tiga usaha pokok untuk pencegahan ini, antara lain :

  1. Identifikasi faktor resiko

Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adnya faktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal, dan penyakit sistemik yang sering mendasari atau menyebabkan jatuh.

Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tapi jangan menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, dan bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapt bergeser sendiri). Peralatan rumah tangga sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan atau tempat aktivitas lansia.

Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

Obat-obatan yang menyebabkan hipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif.

Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.

  1. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan

Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannyadalam melakukan gerakan pindah tempat, pidah posisi.penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat beresiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstermitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa batuan.

  1. Mangatur / mengatasi faktor situasional

Faktor situasional yang bersifat serangan akut yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakuakn aktifitas fisik yang sangat melemahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

  1. B. Proses keperawatan pada lansia dengan injury
  2. Pengkajian :

-          Kaji adanya kerusakan jaringan, misalnya robeknya arteri atau vena, atau tertariknya jaringan otot.

-          Kaji adanya fraktur atau patah tulang

-          Kaji adanya hematom subdural

-          Kaji apakah terjadi disabiliti

-          Tanyakan pad keluarga  riwayat jatuh

-          Penggunaan alat bantu (misalnya: tongkat, walker)

-          Kaji apakah ada gangguan penglihatan dan pendengaran

-          Kaji adanya penyakit  kekuatan ektremitas bawah

-          Kaji penurunan status mental

-          Tanyakan pada keluarga apakah menggunakan medikasi tertentu

-          Tanyakan pada keluarga kondisi lingkungan

  1. Diagnosa keperawatan

-          Nyeri berhubungan dengan adanya robekan pada jaringan otot, arteri atau vena

-          Imobilisasi fisik berhubungan dengan adanya fraktur

-          Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring atau imobilisasi

-          Ansietas berhubungan dengan kondisi fisik(fraktur, robekan vena dan arteri)

  1. Intervensi
No Diagnosa keperawatan Intervensi Rasionalisasi

2

Nyeri berhubungan dengan adanya robekan pada jaringan otot, arteri atau vena 

Imobilisasi fisik

berhubungan dengan adanya fraktur

-      kaji secara komprehensif tentang nyeri, intensitas nyeri dan faktor penyebab 

-      tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena

-      gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri

-      evaluasi tentang keefektifan tentang tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan

-      kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien ketidaknyamanan (temperatur, penyinaran, dll)

-      anjurkan pasien untuk memonitor nyeri sendiri

-      ajarkan penggunaan tekhnik non farmakologi (relaksasi, distraksi)

-      berikan analgetik sesuai anjuran

-      modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien

-      tingkatkan tidur/ istirahat yang cukup

-       kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oelh cedera dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi

-      Instruksikan pasien, bantu dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit

-      Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk tongkat, sesegera mungkin

-      Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau nafas dalam

-      Untuk mengetahui derajat nyeri pada pasien 

-      Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri

-      Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau reaksi terhadap nyeri

-      Untuk mengetahui keefektifan tindakan mengontrol nyeri yang telah dilakukan

-      Menurunkan sensasi nyeri

-   karena tekhnik – tekhnik seperti relaksasi, pernapasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dapat lebih ditoleransi

-      Diberikan untukmenurunkan nyeri dan spasme otot

-      Pasien mungkin dibatasi oleh persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi untuk memajukan kesehatan

-      Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah atrofi

-      Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ

-      Menurunkan insiden komplikasi kulit pernafasan

3 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring atau imobilisasi -      menentukan penyebab toleransi aktivitas (fisik, psikologis, motivasional) 

-      berikan periode aktivitas selama beraktivitas

-      pantau respon kardiopulmonal setelah melakukan aktivitas dan sebelum melakukan aktivita

-      minimalkan kerja kardiovaskuler dengan memberikan posisi dari tidur ke posisi setengah duduk

-      jika memungkinkan, tingkatkan aktivitas secara bertahap (dari duduk, jalan, aktivitas maksimal)

-      pastikan perubahan posisi klien secara perlahan dan monitor gejala dari intoleransi aktivitas

-      monitor dan catat kemampuan untuk mentoleransi aktivitas

-      ajarkan pada klien bagaimana menggunakan tekhnik mengontrol pernafasan ketika beraktivitas

-      untuk meminimalkan kerja sistem pernafasan 

-      tirah baring yang lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode aktivitas

-      meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.

-      Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi

4 Ansietas berhubungan dengan kondisi fisik(fraktur, robekan vena dan arteri) -      Tenangkan klien 

-      Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan

-      Berusaha memahami keadaan klien

-      Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan

-      Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan (takhikardi, takhipnea, ekspresi cemas non verbal)

-      Gunakan pendekatan dan sentuhan, untuk meyakinkan pasien tidak sendiri

-      Sediakan aktivitas untuk menurunkan ketegangan

-      Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang menciptakan cemas

-      Instruksikan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi

-      Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang tepat

-      Pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan ketakutan dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep, dan meningkatkan kerja sama 

-      menurunkan ketakutan dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep, dan meningkatkan kerja sama

-      menurunkan ketakutan dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep, dan meningkatkan kerja sama

-      karena tekhnik – tekhnik seperti relaksasi, pernapasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dapat lebih ditoleransi

-      obat penenang untuk menurunkan cemas

PENUTUP

KESIMPULAN

Jatuh adalah suatu kejadian mengakibatkan seseorag mendadak terbaring /terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.

Penyebab Jatuh Pada Lansia

  1. Kecelakaan
  2. Nyeri kepala atau vertigo
  3. Hipotensi orthostatik
  4. Obat-obatan
  5. Proses penyakit
  6. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

Faktor resiko jatuh pada lansia dibagi dua yaitu :

  1. faktor intrinsik :

-          kondisi fisik dan neuropsikiatrik

-          penurunan visus dan pendengaran

-          perubahan neuromuskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua

  1. Faktor-faktor ekstrinsik

-          Obat-obat yang diminum

-          Alat-alat bantu berjalan

-          Lingkungan yang tidak mendukung

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo-Boedhi.2004.Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). FKUI : Jakarta

Lansia Sering Tiba-tiba Roboh from : http://www.republika.co.id

Mekanisme Keseimbangan Postural Pada Lansia from : http://www.rumahweb.com

Sensor Khusus Lindungi Saat Jatuh from : http://www.indopos.co.id

About these ads
Categories: KEPERAWATAN
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: